Senin, 17 Oktober 2011

Dandelion

by Ganni Ellia Sangra on Monday, October 3, 2011 at 8:09pm



Pada kapas-kapas di langit, katakanlah pada daun, apakah semua angan itu fiksi belaka? Selalu dalam benak tak ada di realita.
Apakah yang bernama kehilangan itu bersahabat dengan kesakitkan?
Apakah setiap tangis adalah kelemahan dan kesedihan?
Apakah kegelapan selalu suram tanpa harapan? Apakah bertahan itu sulit? Apakah menjadi indah itu harus begini begitu? Apakah aku hidup menjadi daun bisa memilih menjadi bunga saja? Apakah aku, daun, harus tersenyum meski aku tlah jatuh, berpisah dengan kawan dan handaitaulan sedahan? Apakah aku harus mencari makna atas pengembaraanku? Apakah aku harus mencari jalan sendiri, tak mengekor angin saja? Apakah aku bisa? Apakah aku boleh menangis?
Apakah bertanya seperti ini adalah kebodohan atau aku memang benar-benar daun yang cengeng? Apakah dan apakah. Selalu apakah.

Apakah kau pikir akan menemukan jawabannya dariku?

Mengapa tidak? Bukankah kau bisa melihat dunia dari atas sana?

Tapi kau tidak kan pernah mendapatkan jawabannya.

Kau tak mau menjawabnya?

Karena aku tidak tahu.

Bohong!

Bukan padaku, coba tanyakan pada dirimu sendiri.

Aku tidak mengerti.

Tanyakan pada hatimu, maka kau akan mengerti.

Bagaimana kalau aku butuh bantuan?

Mintalah petunjuk

Pada?

Tentu saja pada Dia Yang Maha Tahu, Yang Menciptakanmu, menciptakanku, menciptakan dunia ini.

Aku butuh teman.

Hati yang selalu mengingat Rabb-nya adalah sebaik-baik teman.

Begitukah?

Tersenyumlah, dan sapa ia.

-------------------
Jika kau hanya melihat tanpa berusaha merengkuhnya, anganmu akan benar-benar jadi fiksi. Tidak lebih.

Jika kau tak pernah mau mencari hikmahnya, meneladani kehilangan, maka kau akan selalu tersakiti.

Apakah kau fikir seorang ibu yang menangis saat melahirkan anaknya adalah orang yang lemah? Apakah ketika para mujahid menangis atas kemenangan di jalan-Nya mereka sedang bersedih?
Apakah ketika orang tua menangis melihat anaknya tersenyum menjadi sarjana mereka bersedih?

Top of Form

Jika kau bersahabat dengan menutup mata dalam kegelapan, tanpa mau membuka mata, memohon dan mencari cahaya hidayah-Nya dan menyalakan lilin harapan seperti pada kisah 4 lilin, maka bukan hanya disini, hidupmu setelah ini pun akan suram bah...kan lebih suram dari yang kau pikirkan.

Tentu saja sulit! Sangat sulit! Karena lapangan keteguhan dan ketetapan hatimu sangat sempit! Karena kau tak pernah mau melakukan ekspansi untuk memperluasnya.
See More

Jika kau berfikir bahwa menjadi indah harus sebegitu repotnya, maka kau akan selalu sibuk dan repot tanpa terlihat indah. Karena kau meninggalkan kesederhanaan, kealamian, dan keindahan hatimu.

Jika kau tak pernah mensyukuri kehidupanmu, k...au tidak akan pernah menjadi bunga. Kau akan terus menjadi seresah, bahkan sampah!

Silahkan saja kau muram dan menangis saat terjatuh dan berpisah dengan kawan dan handaitaulanmu. Dan kau akan mendapat gelar daun yang lemah, tak berguna, dan takkan pernah menjadi kuat untuk memikul harapan mereka.

Jika kau tak mengharap kebahagiaan mewarnai setiap jejak pengembaraanmu, maka tak perlulah kau mencari-cari makna

Jika kau merasa nyaman dalam kegalauan dan kebimbangan. Tak bertujuan. Tak berpegangan. Tak berketetapan dan tak miliki ketegasan. Silahkan kau terus mengekor!

Apakah kau percaya bahwa dalam dirimu ada daya bisa? Yang akan bekerja jika diformulakan dengan niat, usaha, do'a, dan setelahnya tawakal? Yang akan menjadi semakin bereaksi jika dibubuhi SemangKA? Tapi jika kau tak percaya, maka jangan harap kau akan bisa, bahkau untuk berpijak di atas bumi ini!

Tentu saja kau boleh menangis. Menangislah atas apa yang pantas kau tangisi. Menangislah atas dosa-dosa. Menangislah karena lupa bersyukur. Menangislah karena kelalaian. Menangislah karena kau rindu pada-Nya. Menangislah karena waktu kita t...ak banyak. Menangislah atas kesia-siaan yang pernah dilakukan. Menangislah karena takut pada-Nya. Menangislah karena terharu melihat saudara dan tetanggamu bahagia. Menangislah karena sedih melihat saudara dan tetanggamu berduka. Menangislah karena tak dapat menahan diri. Menangislah karena kau bersalah pada orang tuamu. Menangis dan menangislah atas apa yang pantas ditangisi!

Apakah ketika kau bertanya aku memanggilmu dengan "hai daun bodoh" atau "hai daun cengeng"? Atau kau merasa lebih hebat andai saja kau tak bertanya? Maka itulah kekeliruanmu.

Daun, aku bahagia menjadi temanmu.
Tersenyumlah See More

Wallohu a'lam :D
Sabiqun bilkhoiroti bidznillah :')
Bismillaahirrahmaanirrahiim :D
Insya Allah, ada n.u.t ada jalan ;)

Bianglala

Bianglala terus saja berputar
Mengendap endap
Sayang ia tak berguru pada musang
Maka lelehlah dinding dingin...

yang mengkristal
Lalu sang penjaga berniatlah ia menggelar tabir air yang hangat
Lebih nyaman, begitulah pikirnya...

yang mulai terbuka.
Karena tidaklah elok jika ia tetap meringkuk dalam dingin yang menusuk
Biarlah ia tetap berputar

Mengendap endap
Bukanlah pada musang ataukah kepicikan dunia yang merona-rona ia berguru.
Melainkan dalam tabir yang

ia gelar itu ditundukkanlah jiwanya pada Rabb-nya yang Maha Pencipta dan Penganugerah Cinta. Dan dalam tabir air...

nan hangat, bening, berlinang berlapis-lapis, itu pula Bianglalanya berputar dalam ridha-Nya

Hujan yang bertanya


by Ganni Ellia Sangra on Thursday, September 15, 2011 at 9:52pm

"Mendung menggelayut di atas pepohonan"
dan mereka tanyakan "kapan datang hujan"
menanti, menunggu
"Terlalu lama dalam kerak kemarau" dan yang lain "Dalam panas yang kian meranggas" yang disana "Dingin malam yang tak nyaman"


"Rinai hujan hadir, kaki-kakinya lincah menggelisir"
yang terlantun
"Disini bau tanah jadinya" menimpal lah yang kedua "Tak jadi elok lah sepatu kaca beta" sebuah hardik menukas "Kuyuplah semua jemuran" yang lain "Busuklah daun tembakau yang baru di panen"


yang semula dirindui meratap"Maunya apa harus bagaimana?"



"Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan (hujan) diantara mereka agar mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia tidak mau (bersyukur), bahkan mereka mengingkari (nikmat)" Q.S Al- Furqon: 50



Cahaya Mata

by Ganni Ellia Sangra on Thursday, September 29, 2011 at 9:25pm

Cahaya mata
Itu
Berbinar, lebih terang
Dari alpha atau beta centauri sekalipun
Aduhai mempesona

Cahaya mata
Itu
Hangat,
Meski mangsa ketiga belum angkat kaki
Aduhai membuat rindu

Cahaya mata
Itu
Teduh,
Meski mangsa rendheng belum jua tiba
Aduhai menenangkan

Cahaya mata
Itu
Tak pernah habis
Meski paceklik tak habis habis
Aduhai betapa manis

Cahaya mata
Itu
Sejuk
Meski di dataran tropis
Aduhai tak ingin ku tepis

Cahaya mata
Itu
Sarat makna
Meski tak diterjemahkan dan diterka-terka




Aduhai bidadari surga aku rindu padamu :')

Dalam dekap-Mu

by Ganni Ellia Sangra on Sunday, October 2, 2011 at 8:31pm

Jikalah malam padam
Atau gemintang muram
Dan senja digulung temaram
Biarkanlah aku tetap bersimpuh di atas dua kaki yang acap kali lupa ku syukuri
Biarlah mata ini terpejam dalam Mengeringkan air mata
Asal basah padang tiah hati
Biarlah bibir yang banyak cakap ini bungkam dengan istighfar kepada-Mu yaa Illahi Rabbi


Wahai diri pantaskah kau mendongakkan kepala sedang kau begitu kecil, hina, dan tanpa daya?


Wahai akal pantaskah kau meraja sedang kau buta dan papa tanpa hati nurani yang tertimpa hidayah-Nya?


Wahai Rabb-ku
Dengan jiwa yang miskin aku mengharap hidayah dan keridhaan-Mu
Agar kayalah ia dengan iman


Ya Illahi..
Dekaplah hati kami
Agar benar titian
Agar senantiasa dalam keslamatan
Agar dapat merasakan sebenar-benar kebahagiaan bersama-Mu, di jalan-Mu :D