by Ganni Ellia Sangra on Monday, October 3, 2011 at 8:09pm
Pada kapas-kapas di langit, katakanlah pada daun, apakah semua angan itu fiksi belaka? Selalu dalam benak tak ada di realita.
Apakah yang bernama kehilangan itu bersahabat dengan kesakitkan?
Apakah setiap tangis adalah kelemahan dan kesedihan?
Apakah kegelapan selalu suram tanpa harapan? Apakah bertahan itu sulit? Apakah menjadi indah itu harus begini begitu? Apakah aku hidup menjadi daun bisa memilih menjadi bunga saja? Apakah aku, daun, harus tersenyum meski aku tlah jatuh, berpisah dengan kawan dan handaitaulan sedahan? Apakah aku harus mencari makna atas pengembaraanku? Apakah aku harus mencari jalan sendiri, tak mengekor angin saja? Apakah aku bisa? Apakah aku boleh menangis?
Apakah bertanya seperti ini adalah kebodohan atau aku memang benar-benar daun yang cengeng? Apakah dan apakah. Selalu apakah.
Apakah kau pikir akan menemukan jawabannya dariku?
Mengapa tidak? Bukankah kau bisa melihat dunia dari atas sana?
Tapi kau tidak kan pernah mendapatkan jawabannya.
Kau tak mau menjawabnya?
Karena aku tidak tahu.
Bohong!
Bukan padaku, coba tanyakan pada dirimu sendiri.
Aku tidak mengerti.
Tanyakan pada hatimu, maka kau akan mengerti.
Bagaimana kalau aku butuh bantuan?
Mintalah petunjuk
Pada?
Tentu saja pada Dia Yang Maha Tahu, Yang Menciptakanmu, menciptakanku, menciptakan dunia ini.
Aku butuh teman.
Hati yang selalu mengingat Rabb-nya adalah sebaik-baik teman.
Begitukah?
Tersenyumlah, dan sapa ia.
-------------------
Jika kau hanya melihat tanpa berusaha merengkuhnya, anganmu akan benar-benar jadi fiksi. Tidak lebih.
Jika kau tak pernah mau mencari hikmahnya, meneladani kehilangan, maka kau akan selalu tersakiti.
Apakah kau fikir seorang ibu yang menangis saat melahirkan anaknya adalah orang yang lemah? Apakah ketika para mujahid menangis atas kemenangan di jalan-Nya mereka sedang bersedih?
Apakah ketika orang tua menangis melihat anaknya tersenyum menjadi sarjana mereka bersedih?
Jika kau bersahabat dengan menutup mata dalam kegelapan, tanpa mau membuka mata, memohon dan mencari cahaya hidayah-Nya dan menyalakan lilin harapan seperti pada kisah 4 lilin, maka bukan hanya disini, hidupmu setelah ini pun akan suram bah...kan lebih suram dari yang kau pikirkan.
Tentu saja sulit! Sangat sulit! Karena lapangan keteguhan dan ketetapan hatimu sangat sempit! Karena kau tak pernah mau melakukan ekspansi untuk memperluasnya.
See More
Jika kau berfikir bahwa menjadi indah harus sebegitu repotnya, maka kau akan selalu sibuk dan repot tanpa terlihat indah. Karena kau meninggalkan kesederhanaan, kealamian, dan keindahan hatimu.
Jika kau tak pernah mensyukuri kehidupanmu, k...au tidak akan pernah menjadi bunga. Kau akan terus menjadi seresah, bahkan sampah!
Silahkan saja kau muram dan menangis saat terjatuh dan berpisah dengan kawan dan handaitaulanmu. Dan kau akan mendapat gelar daun yang lemah, tak berguna, dan takkan pernah menjadi kuat untuk memikul harapan mereka.
Jika kau tak mengharap kebahagiaan mewarnai setiap jejak pengembaraanmu, maka tak perlulah kau mencari-cari makna
Jika kau merasa nyaman dalam kegalauan dan kebimbangan. Tak bertujuan. Tak berpegangan. Tak berketetapan dan tak miliki ketegasan. Silahkan kau terus mengekor!
Apakah kau percaya bahwa dalam dirimu ada daya bisa? Yang akan bekerja jika diformulakan dengan niat, usaha, do'a, dan setelahnya tawakal? Yang akan menjadi semakin bereaksi jika dibubuhi SemangKA? Tapi jika kau tak percaya, maka jangan harap kau akan bisa, bahkau untuk berpijak di atas bumi ini!
Tentu saja kau boleh menangis. Menangislah atas apa yang pantas kau tangisi. Menangislah atas dosa-dosa. Menangislah karena lupa bersyukur. Menangislah karena kelalaian. Menangislah karena kau rindu pada-Nya. Menangislah karena waktu kita t...ak banyak. Menangislah atas kesia-siaan yang pernah dilakukan. Menangislah karena takut pada-Nya. Menangislah karena terharu melihat saudara dan tetanggamu bahagia. Menangislah karena sedih melihat saudara dan tetanggamu berduka. Menangislah karena tak dapat menahan diri. Menangislah karena kau bersalah pada orang tuamu. Menangis dan menangislah atas apa yang pantas ditangisi!
Apakah ketika kau bertanya aku memanggilmu dengan "hai daun bodoh" atau "hai daun cengeng"? Atau kau merasa lebih hebat andai saja kau tak bertanya? Maka itulah kekeliruanmu.
Daun, aku bahagia menjadi temanmu.
Tersenyumlah See More
Wallohu a'lam :D
Sabiqun bilkhoiroti bidznillah :')
Bismillaahirrahmaanirrahiim :D
Insya Allah, ada n.u.t ada jalan ;)