Senin, 19 September 2011

Tulisan ini begitu membingungkan.. tapi aku berusaha membuatnya terbaca

Seulas Senyum di Atas Sabana

BAG I
.................................................
Jika daun terjatuh akankah angin membimbingnya dalam tenang? Ataukah justru menjerumuskanya dalam palung kegalauan?
''Dia akan memasrahkan raganya kemanapun itu.''

Mengapa?
''Karena betapa ia merindu angin yang ia puja, yang dalam bias kilau surya dikatakanya akan menyejukkan helai dirinya yang kering, rapuh''

Hei! Tapi apa kenyataannya! Sungguh berbanding terbalik!HAHAHA ini sungguh menggelikan, membuatku terpingkal!BODOH!
'' Hmhm,,Tapi ketauhilah dia tak pernah berada dalam nyatanya.''
(Dia bahkan tak marah saat ku tertawakan? Melainkan menyuguhkan senyum padaku diantara wajah yang penuh guratan dan serat cinta tak terbalas! Dia menunggu dirinya tersepak angin diatas tanah sabana yang buas. Sebelum seekor mamalia memamahnya.) Lalu aku melanjutkan pertanyaanku.

Untuk apa?
'' Menunggu, menjaga kesetiaanku,''jawabnya. HAHAHA tawaku terbit kembali memekakkan tanah ini. Kali ini hingga titik air menyembul dari sudut mataku.

Bahkan dia tak pernah menganggap daun kering macam dirimu! Sadarlah! Ini akan menyakitkan bagimu! Kembali senyum terlukis tipis di wajahnya.
''Aku mengaguminya dan dalam hatiku tak ada saraf nyeri,'' ujarnya penuh makna dengan tatapan berisi sejuta siluet cahaya kasih. (Aku tertegun. Kulanjutkan debat ini)

Kau pernah memikirkan hal lain selain angin yang kau puja itu?
'' Tentu. Namun hanya sekedar udara yang berlalu.'' (Jawaban ini membuat lidahku kelu)

Lalu sebenarnya apa yang kau tunggu darinya?
'' Suatu harapan kosong. Tentang kisah dalam khayalku bahwa ia kan sudi menerbangkanku bersamanya dan memanggil dengan sayup suaranya hujan yang sarat dengan kebijaksanaan hati''
(Aku bertashbih mendengar ini)

Tapi sampai kapan?
'' Sampai aku dihalalkan bersamanya''
(Subahanallah!)

Percakapan kami berhenti sampai disini. Diakhiri dengan anak sungai yang membentuk meander di kedua pipiku dan bermuara di relung hati yang telah lama kering lagi tak mengenal cahaya. Diantara itu sang daun tetap menunggu, teronggok di celah akar pohon-pohon oak, menjaga hatinya sembari menyajikan senyum kerinduan yang perih dari helai jiwa. Senyum di atas Sabana.

BAG II
.................................................
Mendung menggumpal, semakin hitam. Aku teringat akan hujan yang diharapkan oleh daun bodoh itu, yang diharapkannya datang atas panggilan angin. Kuhampiri dia. Hujan menderu disini. Bising, namun aku bisa mendengar tangisnya.

Hei! Mengapa kau menangis? Hujan telah datang. Bukankah ini yang kau harap?
''Biarkan aku menangis diantara hujan, agar tak ada yang tahu aku menangis. Hujan telah datang mendahului, yang berarti dia benar hanya datang dalam maya belaka''

HAHAHAHA!!! Sudah kubilang, penantianmu hanya sia-sia, bukankah ini menyakitkan? Aku semakin yakin kau telah kehilangan kecerdasanmu.(Hinaku)
''Begitukah menurutmu? Dan bukankah sudah kubilang bahwa dihatiku tak ada saraf nyeri?''

(DEG! Jantungku seolah berhenti mendengar ini.)
Lalu apa? Mengapa kau menangis?
''Dengan ini berarti penantianku kan semakin lama, aku mengis karena aku takut kesetianku tersiram musim dan hujan.''

Segala puji bagiMu. Betapa kau telah ciptakan sehelai daun yang begitu menjaga kesetiaannya.
''Aku pun takut semakin aku menunggu, semakin aku merinduinya. Aku takut rinduku terlampau besar untuk angin..aku takut rindu itu melampaui rindu sejatiku pada-Nya''(Kali ini dia menimpali lebih dulu. Parau suaranya, seperti bukan ia yang pertama ku temu, tangisnya kian membludak, membanjiri serat daunnya yang kian kusut) Ya Rabbi. Jadikan aku seperti dia, yang senantiasa menjaga rindunya padaMu juga pada angin rindunya)

Aku tertegun, menatapnya nanar. Aku berdiri dan dia terpekur dalam hujan ini, dalam kubahan langit yang kian menggelap, dalam kubangan kerinduan.

Apa kau pikir hujan ini akan senang melihat kau menangis manakala dia menghampiri?
''Dia akan senang''

Mengapa? Siapa yang senang diberi tangis? Kecuali tangis itu tangis kebahagian?
''Dia senang karena bisa membantuku menyembunyikan sedihku, ketakutanku, dengan mengkamuflasekan tangisku diantara kaki-kakinya. Dan saat dia berlari menjauh dari sini, air mataku telah kering, hanya tawa yang tersisa''


Apa kau tidak marah? Tidak benci dengan angin itu? Apa dia tau kau menunggunya?
''Daun yang tak pernah membenci angin. Dia tau dan selalu tau, karena angin adalah pengelana''


Aku tak mengerti?
''Bagaimanakah kau dapat mengerti sedang aku pun tak tahu, aku menyadari ini atau tidak. Aku hanya menyemai di atas gurun.''


Menyemai di atas gurun katamu? mustahil akan tumbuhkan?
''Asal tumbuhan itu ikhlas untuk tumbuh, asalkan tanah, pasir gurun ikhlas menjadi sarana tumbuhnya. Maka bukan hal mustahil ia akan tumbuh. Dia Maha mengetahui. Maha memelihara setiap mahlukNya''

Aku diam. Terdiam lama. Hujan ini masih betah mengguyur. Kalau akulah angin, aku pun tak sempat melihatnya. Dia hanya daun kecil. Berserat kusut. Teronggok kumal diantara akar-akar pohon oak. Kupikir dia itu amat bodoh. Tapi entah mengapa semuanya, semua pemikiranku bahwa dia tak lebih dari daun yang amat bodoh salah. Dia memilikinya. Memiliki apa yang takku dan banyak mahluk miliki. Entah apa itu. Sesuatu kekuatan, ketegaran, kelembutan, entahlah. Yang jelas kini aku mulai mengagumi daun itu. Daun yang sering aku hina bila kita terlibat percakapan.

BAG III
.......................................................

Lama rasanya hujan turun, hingga tak terasa tubuhku kian meringkuk. Dingin malah mengantar mataku terpejam, bersandar pada batang pohon, entahlah si daun itu. Apa yang sedang ia kerjakan, aku tidak perduli. Aku terlalu sibuk mengusir dingin disana-sini dengan meringkukkan tubuhku.
Hingga selaksa batang-batang cahaya mentari menyayat-nyayat kedinginan di tubuhku menawarkan harum kehangatan yang menggoda. Membuatku terjaga. Aku masih di atas sabana.
''Kau bangun karena hujan pergi? Atau mentari yang membangunkanmu?'' (Daun itu memulai percakapan ini lagi. Ah aku masih malas, sebenarnya.)
Keduanya, jawabku. enteng

''Bisakah kau memilih salah satu diantara dua itu'' (Aku tak tahu apa yang membuat dia begitu semangat pagi ini. Berseri, lembar daunnya bercahaya. Dia pun sigap melontarkan pertanyaan-pertanyaan padaku yang masih betah dikungkung rasa malas.) Lalu kujawab
Bagaimana lagi? Karena keduanya yang kurasa membangunkanku.

''Baiklah lupakan soal siapa atau apa yang membangunkanmu, aku tau beberapa pertanyaan telah tumbuh dibenakmu saat aku mulai pembicaraan ini''
Apa? Aku tidak mengerti.

''Heran? kini aku begitu bersemangat? Begitu sigap melontarkan pertanyaan-pertanyaan padamu yang mungkin membosankan bagimu''
(Bosan? Tidak, tidak, kini aku mulai tertarik. Karena apa? Karena si daun ini seolah dapat membaca hati dan pikiranku!) Aku lanjutkan: yah kau benar lalu apa yang membuatmu begitu?

''Hujan''
Apa yang dia lakukan?

''Tidak ada, dia hanya menanyakan sesuatu. Saat aku ingin memintamu membantuku menjawab kau telah terlelap.''
Apa yang dia tanyakan?

''(Hujan: kau masih betah disini?
Daun: harusnya aku yang bertanya padamu
Hujan: Kau tau dengan apa Dia kini sedang mengujimu?
Daun: (menggeleng) dengan?
Hujan: Sebuah pertanyaan
Daun: Lalu apa itu?''
Hujan: Mana yang lebih kamu cintai Aku atau mahluk-Ku?
Daun: haruskah aku menjawabnya?
Hujan: Setidaknya jawabanmu akan memberi ruang yang jelas bagi dirimu sendiri. Baru setelah kau jawab itu aku akan pergi
Daun: Aku menjawab: aku lebih mencintai-Nya sedalam-dalam hatiku karena hanya Dia yang pantas dicintai dan aku ingin setiap aku mencintai mahlukNya itu hanya karena-Nya dengan ridha-Nya.) Benar, setelah aku menjawabnya. Dia pergi dan kau terbangun. Dan aku, aku merasakan kelegaan yang
begitu lega. Hangat, ringan, dan rasa kantuk yang nyaman''
(Setelah kata 'nyaman' yang terakhir ia ucapkan, daun itu terkulai, tidur? Mungkin? Dan sejak daun itu menceritakan percakapannya dengan hujan, aku telah merinding. Aku bangga dengan daun itu. Dan aku merasa salah dan kalah dengannya)
Aku bangga padamu. Baiklah kini akupun lega, aku tenang untuk meninggalkanmu disini. Kau daun yang kuat. Tetaplah semaikan senyummu diatas sabana ini.

(Original: Ganni Ellia Sangra. Inspirasi tokoh: Kurnia Istiqomah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar