oleh Budhe Nunu pada 16 Februari 2012 pukul 13:32 ·
Maka ia musafir
Diantara tanah berbakar dan gunung pasir
Menatap nelangsa fata morgana yang sungguh tak dapat dibilang nyata
Bu…
Aku kasihan padanya
Hitam legam laksana bijih berkilat-kilat
Berkeringat,
Hhingga basah tepaknya
Sebasah hati berbasuh dzikrullohnya
Bu..
Apa aku seperti dia?
Maka takaran apa yang aku pakai
Sedang aku tidur di atas beludru dunia
Sedang aku hanya mengisi perut saja
Sedang aku bagai lembu berkemul kemalasan
Bu…
Aku malu
Di sini angin membelai kelopak mata
Hingga tak berdaya ia
Sedanmg angin di sana,
Menampar panas setiap urat wajah
Tapi tak cukup menyakiti keistiqomahannya
Ya, musafir itu
Bu…
Berarti aku yang kasihan
Dia, musafir itu
Berjalan merampal hafalan
Sedang sering aku lupakan
Bismillah sebelum makan
Dia, musafir itu
Menangis bila lupa pada Rabb-nya
Sedang aku bangun tidur
Berlalu tanpa syukur
Bu..
Maka sungguh-sungguh yang kasihan itu aku
Diantara tanah berbakar dan gunung pasir
Menatap nelangsa fata morgana yang sungguh tak dapat dibilang nyata
Bu…
Aku kasihan padanya
Hitam legam laksana bijih berkilat-kilat
Berkeringat,
Hhingga basah tepaknya
Sebasah hati berbasuh dzikrullohnya
Bu..
Apa aku seperti dia?
Maka takaran apa yang aku pakai
Sedang aku tidur di atas beludru dunia
Sedang aku hanya mengisi perut saja
Sedang aku bagai lembu berkemul kemalasan
Bu…
Aku malu
Di sini angin membelai kelopak mata
Hingga tak berdaya ia
Sedanmg angin di sana,
Menampar panas setiap urat wajah
Tapi tak cukup menyakiti keistiqomahannya
Ya, musafir itu
Bu…
Berarti aku yang kasihan
Dia, musafir itu
Berjalan merampal hafalan
Sedang sering aku lupakan
Bismillah sebelum makan
Dia, musafir itu
Menangis bila lupa pada Rabb-nya
Sedang aku bangun tidur
Berlalu tanpa syukur
Bu..
Maka sungguh-sungguh yang kasihan itu aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar